Sejarah Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Advertisement
Kraton Yogyakarta ( secara formal dikenal dengan nama: Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, adalah Bangunan Komplek Istana yang terletak di kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia.

Istana ini merupakan kediaman utama Sri Sultan HB X dan keluarga.

Saat ini istana berfungsi sebagai pusat kultur dan budaya dari masyarakat jawa dan menjadi museum yang mendisplay artifak serta  barang-barang sejarah kasultanan dari jaman dahulu.

Istana ini dijaga oleh Prajurit Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

SEJARAH

Kraton Yogyakarta dibangun oleh Pangeran Mangkubumi pada tahun 1755-1756 ( Tahun jawa: 1628 ), beberapa bulan setelah menandatangani "Perjanjian Giyanti" antara Pangeran Mangkubumi dari Yogyakarta, Pakubuwono III dari Surakarta, dan Pemerintah Hindia Belanda.

Hutan Banyan dipilih menjadi tempat di wilayah istana yang mana terletak diantara 2 sungai.

Pada 20 Juni 1820, Stamford Raffles memimpin 1.200 pasukan inggris menyerang tembok pertahanan istana Yogyakarta.

Pasukan jawa kala itu meski memiliki jumlah yang lebih banyak dari pasukan Inggris, tidak siap dengan serangen tersebut, dan berhasil diduduki setelah penyerangan.

Peristiwa ini disebut dengan "Geger Sepoy" atau "Geger Spei".

Ilustrasi Geger Sepoy / Sepehi (sumber)
Hanya dalam satu hari, kota Yogyakarta jatuh dan istana diransak dan dibakar.

Total jarahan yang didapat pasukan Inggris dari Istana Yogyakarta mencapai nilai £15,000 dalam bentuk emas, permata dan uang (yang saat ini bernilai sampai £500,000 ).

Kejadian ini adalah kali pertama pernyerangan yang dilakukan ke pemerintahan di jawa, sehingga kasultanan kemudian diwajibkan tunduk pada kekuasaan kolonial Belanda.

Sebagian besar bangunan istana yang ada saat ini, dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono VIII yang berkuasa antara tahun 1921 - 1939, pernah mengalami kerusakan karena gempa pada tahun 1876 dan 2006, dan secara bertahap dipugar dan diperbaiki dari kerusakan.

ARSITEKTUR

Layout Wilayan Kraton Yogyakarta
Arsitek dari istana Yogyakarta adalah Sultan Hamengkubuwono I, pendiri dari kasultanan Yogyakarta.

Kemampuan arsitekturnya diakui dan diapresiasi oleh Ilmuwan Belanda Theodoor Gautier Thomas Pigeaud dan Lucien Adam yang menganggapnya sebagai arsitek dari saudara dari Pakubuwono II  dari Kasunanan Surakarta.

Dasar pembangunan dan dasar desain dari istana mengikuti desain dasar dari landscape tua kota Yogyakarta, selesai dibangun antara tahun 1755-1756.

Bangunan lain dibangun dikemudian hari oleh Sultan Yogyakarta saat ini.

Bentuk istana saat ini adalah hasil restorasi dan perbaikan oleh Sultan Hamengkubuwono VIII yang berkuasa antara tahun 1921-1939.

Bangunan Kraton Yogyakarta lebih terlihat menggunakan gaya artsitektur jawa, yang biasanya memiliki konstruksi bangunan kayu yang ada di relief candi, yang tentu saja bangunan yang digunakan oleh masyarakat pada periode klasik

Ornamen Pilar Kraton (sumber)
Beberapa ornamen flora dan fauna dan motif alami kadang ditemukan pada arsitektur ini.

Pada beberapa bagian terlihat paduan budaya asing seperti Portugis, Belanda bahkan China.

Bangunan pada setiap komplek biasanya berbentuk Joglo atau turunan konstruksinya.

Joglo yang dibangun tanpa dinding yang disebut Bangsal, sementara joglo yang dibangun dengan dinding, disebut Gedhong (Gedung).

Disamping itu juga terdapat bangunan yang berbentuk kanopi yang terbuat dari bambu dan memiliki pilar yang disebut Tratag.

Pada perkembangannya, bangunan ini diberi atap seng dan besi.

Permukaan dari atap joglo berbentuk trapesium.

Materialnya terbuat dari sirap, ubin dan seng dan biasanya berwarna merah atau abu-abu.

Atapnya disokong oleh pilar utama yang disebut dengan Soko Guru, terletak di bagian tengah bangunan.

Pilar bangunan umumnya berwarna hijau tua atau hitam dengan ornamen berwarna kuning, hijau muda, merah dan emas.

Bangsal Kencana Kraton
Untuk bagian bangunan lain yang terbuat dari kayu memiliki warna sama dengan Kaligrafi Muhammad, dan Alif Lam Mim Ra pada bagian tengah pilar.

Pada alas batunya, disebut ompak berwarna hitam dipadu dengan ornamen warna emas.

Warna putih mendominasi pada dinding dan dinding pembatasnya.

Lantai biasanya terbuat dari marmer putih atau ubin yang berpola.

Lantai ini dibuat lebih tinggi dari halaman.

Pada bangunan tertentu memiliki lantai yang lebih tinggi lagi, dan dilengkapi dengan batu persegi yang disebut Selo Gilang tempat tahta Sultan.

Tiap bangunan memiliki kelas dan fungsinya termasuk jarak sesuai dengan posisi masing-masing.

Kelas utama misalnya, bangunan yang digunakan oleh sultan berdasarkan posisinya, memiliki ornamen lebih detil dan lebih rumit serta indah daripada kelas dibawahnya.

Bangunan kelas yang lebih rendah memiliki ornamen yang lebih simple atau bahkan tidak memiliki ornamen sama sekali.

Disamping dari ornamen, kelas bangunan dapat juga dilihat dari material yang digunakan atau bentuk dari bangunan itu sendiri.

FILOSOFI

Kraton berarti tempat dimana ratu ( dalam bahasa inggris : Queen, di jawa juga bisa berarti : Raja) tinggal.

Kata "Keraton" ( Keraton adalah tempat tinggal keluarga raja didalam istana)( disingkat dari kata ratu/Ka-ratuan) berasal dari kata "Ratu" dalam bahasa melayu berarti "Raja".

Istana dibangun berdasarkan filosofi jawa dan terselubung dalam kemistisan.

Pengaturan tata ruang istana, termasuk pemandangan kota kota tua Yogyakarta, termasuk arsitekturnya, arah bangunan, dan benda-benda, semuanya memiliki  nilai mitologi dan sistem kepercayaan orang Jawa.

Jalan utama kota tua yogyakarta  membentuk garis lurus dari Tugu Yogyakarta, Kraton, Gunung Merapi ke Panggung Krapyak (kandang menjangan).

Sumbu Imajiner Yogyakarta (sumber)
Tata letak ini memiliki arti "asal-usul manusia dan tujuan terakhir mereka" ( dalam bahasa Jawa: sangkan paraning dumadi)

Jalan dari panggung krapyak menuju istana menyimbolkan penciptaan manusia pertama menuju kedewasaan.

Desa disekeliling panggung krapyak disebut dengan "Mijen" yang berasal dari kata "Wiji" (benih). Disepanjang jalan ditanami pohon Asam Jawa dan Sawo Kecik yang melambangkan perjalanan dari masa anak-anak menuju kedewasaan.

Panggung Krapyak (Kandang Menjangan)
Lalu mengarah ke Tugu Yogyakarta dan akhirnya berakhir di istana yang melambangkan berakhirnya perjalanan hidup dan menemui sang pencipta.

Terakhir, 7 gerbang dari Gladhag ke Donopratopo melambangkan 7 tangga menuju surga.

Tugu Yogyakarta (Gilig golong Monument) terletak di bagian utara dari kota dan merupakan simbol bersatunya antara Raja (golong) dan rakyatnya (gilig)(bahasa jawa: Manunggaling Kawulo Gusti).

Hal ini juga menyimbolkan bersatunya manusia dengan sang pencipta.

Gerbang Donopratoro (gerbang menuju bagian kedaton berarti "orang yang baik adalah orang yang murah hati dan tahu bagaimana mengendalikan hawa nafsunya") dan dua patung "Dwarapala" dan "Cinkarabala", masing masing melambangkan kebaikan dan kejahatan.

Gerbang Donopratoro dengan patung Dwarapala & Cinkarabala
Pusaka keraton juga dipercaya memiliki kekuatan untuk menolak dan menghalau niat jahat.

PERTUNJUKAN BUDAYA

Keraton Yogyakarta menyelenggarakan pertunjukan budaya setiap hari diantaranya:
  • Gamelan - setiap hari senin - selasa jam 10 pagi
  • Wayang golek - setiap hari rabu jam 10 pagi
  • Pertunjukan sendratari - Kamis jam 10 pagi
  • Macapat - Jumat jam 9 pagi
  • Pertunjukan Wayang Kulit - Sabtu jam 9:30 pagi
  • Pertunjukan Wayang Orang dan Sendratari - Minggu jam 9:30 pagi
Lihat Juga
  • Daftar Raja Raja Yogyakarta
  • Benteng Vredeburg
  • Gedung Agung
  • Taman sari
No comments:
Write comments