Pangeran Mangkubumi - Hamengkubuwono I

Sri Sultan Hamengkubuwana I (Bahasa Jawa: Sri Sultan Hamengkubuwono I), (lahir di Kartasura, 6 Agustus 1717 – meninggal di Yogyakarta, 24 Maret 1792 pada umur 74 tahun) lahir dengan nama "Raden Mas Sujana", merupakan pendiri sekaligus raja pertama Kesultanan Yogyakarta yang memerintah tahun 1755 - 1792

Putera dari Sultan Sunan Prabu Mataram, penguasa Mataram, dan saudara dari Pakubuwono II dari Surakarta, yang berselisih karena Tahta Mataram.

Pangeran Mangkubumi menantang saudaranya Pakubuwono II, yang dibantu oleh Hindia Belanda yang mencari raja untuk dijadikan boneka di Jawa.

Perang yang kemudian meletus dinamakan dengan "Perang Suksesi Ketiga di Mataram".

Selama peperangan, pangeran Mangkubumi dibantu oleh pasukan legendaris dengan komandan Raden Mas Said yang berperang dengan menggunakan strategi yang efektif.

Mangkubumi memenangkan pertempuran yang menentukan di Grobogan, Demak, dan Sungai Bogowonto.

Selama perang di tahun 1749, Pakubuwono II meninggal dan pangeran Mangkubumi menjadi Sultan.

Pada peperangan di sungai Bogowonto di tahun 1751, pasukan Hindia Belanda yang dipimpin oleh De Clerk berhasil dikalahkan pasukan Mangkubumi.

Raden Mas Said berselisih dengan Mangkubumi dan memberontak.

Perang Suksesi berakhir dengan diadakannya "Perjanjian Giyanti" yang berlangsung di Giyanti, daerah timur Surakarta ( Ibu kota Kerajaan Mataram ).

Raden Mas Said tetap memberontak karena dia tidak tergabung dalam perjanjian tersebut.

Dia hanya bersedia untuk menghentikan permusuhan setelah Belanda mengundangnya untuk menandatangani perjanjian di Salatiga, dan mendapatkan gelar kebangsawanan dengan gelar Mangkunegara.

Berdasarkan perjanjian Giyanti, Mataram pertama kali dibagi menjadi 2 kerajaan, Surakarta dengan Pakubuwono III sebagai Raja, dan Kasultanan Yogyakarta dengan pangeran Mangkubumi sebagai sultan, dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwono I Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panatagama Kalifatulah.

Yogyakarta menjadi ibu kota dan sebuah istana dibangun dengan taman air dibagian barat Taman Sari.

ASAL USUL

Nama aslinya adalah Raden Mas Sujana yang setelah dewasa bergelar Pangeran Mangkubumi. Ia merupakan putra Amangkurat IV raja Kasunanan Kartasura yang lahir dari selir bernama Mas Ayu Tejawati pada tanggal 6 Agustus 1717.

Pada tahun 1740 terjadi pemberontakan orang-orang Tionghoa di Batavia yang menyebar sampai ke seluruh Jawa.

Pada mulanya, Pakubuwana II (kakak Mangkubumi) mendukung pemberontakan tersebut.

Namun, ketika menyaksikan pihak VOC unggul, Pakubuwana II pun berubah pikiran.

Pada tahun 1742 istana Kartasura diserbu kaum pemberontak .

Pakubuwana II terpaksa membangun istana baru di Surakarta, sedangkan pemberontakan tersebut akhirnya dapat ditumpas oleh VOC dan Cakraningrat IV dari Madura.

Sisa-sisa pemberontak yang dipimpin oleh Raden Mas Said (keponakan Pakubuwana II dan Mangkubumi) berhasil merebut tanah Sukowati.

Pakubuwana II mengumumkan sayembara berhadiah tanah seluas 3.000 cacah untuk siapa saja yang berhasil merebut kembali Sukowati.

Mangkubumi dengan berhasil mengusir Mas Said pada tahun 1746, namun ia dihalang-halangi Patih Pringgalaya yang menghasut raja supaya membatalkan perjanjian sayembara.

Datang pula Baron van Imhoff gubernur jenderal VOC yang makin memperkeruh suasana.

Ia mendesak Pakubuwana II supaya menyewakan daerah pesisir kepada VOC seharga 20.000 real untuk melunasi hutang keraton terhadap Belanda.

Hal ini ditentang Mangkubumi.

Akibatnya, terjadilah pertengkaran di mana Baron van Imhoff menghina Mangkubumi di depan umum.

Mangkubumi yang sakit hati meninggalkan Surakarta pada bulan Mei 1746 dan menggabungkan diri dengan Mas Said sebagai pemberontak.

Sebagai ikatan gabungan Mangkubumi mengawinkan Mas Said dengan puterinya yaitu Rara Inten atau Gusti Ratu Bendoro.

Pangeran Mangkubumi merupakan gelar berganda yaitu seorang Pangeran yang menjabat sebagai Mangkubumi (Kepala Pemerintahan).

Pangeran yang menyandang gelar ini biasanya Pangeran ke2 atau putera kedua dari Sultan yang bertahta atau adik Putera Mahkota, namun jika putera kedua tidak ada maka akan dijabat oleh putera selir atau saudara Sultan.

Gelar Pangeran Mangkubumi ini sering dipakai di pulau Jawa, Kalimantan dan lain-lain.

Pangeran yang menyandang gelar Pangeran Mangkubumi :
  • Hamengkubuwana II. Ia adalah salah seorang putra dari Hamengkubuwana I.
  • Pangeran Dipati Mangkubumi (Raden Halit), mangkubumi Banjar pada masa Sultan Saidullah 1657-1660
  • Pangeran Mas Dipati, mangkubumi Banjar tahun 1660-1663
  • Pangeran Mangkoe Boemi Nata (Pangeran Husin), mangkubumi Banjar 1823-1842[1]
  • Pangeran Hidayatullah (Gusti Andarun), mangkubumi Banjar tahun 1856-1859

SILSILAH KELUARGA

Hamengku Buwana I secara geneologis adalah keturunan Brawijaya V baik dari ayahandanya Amangkurat IV maupun dari ibundanya Mas Ayu Tejawati..

Dari garis ayahandanya silsilah ke atas yang menyambung sampai Brawijaya V secara umum sudah pada diketahui namun dari pihak ibundanya masih sedikit yang mengungkapkannya.

Dari Brawijaya V seorang dari puteranya bernama Jaka Dhalak yang kemudian menurunkan Wasisrowo atau Pangeran Panggung.

Pangeran Panggung selanjutnya berputera Pangeran Alas yang memiliki anak bernama Tumenggung Perampilan. 

Tumenggung Perampilan mengabdikan diri di pajang pada Sultan Hadiwijaya dan ia berputera Kyai Cibkakak di Kepundung jawa Tengah.

Selanjutnya Kyai Cibkakak ini menurunkan putra bernama Kyai Resoyuda.

Dari Resoyuda ini menurunkan putra bernama Ngabehi Hondoroko yang selanjutnya punya anak putri bernama Mas Ayu Tejawati, ibunda Hamengku Buwana I.

PERANG TAHTA JAWA KE TIGA

Perang antara Mangkubumi melawan Pakubuwana II yang didukung VOC disebut para sejarawan sebagai Perang Suksesi Jawa III.

Pada tahun 1747 diperkirakan kekuatan Mangkubumi mencapai 13.000 orang prajurit.

Pertempuran demi pertempuran dimenangkan oleh Mangkubumi, misalnya pertempuran di Demak dan Grobogan.

Pada akhir tahun 1749, Pakubuwana II sakit parah dan merasa kematiannya sudah dekat.

Ia pun menyerahkan kedaulatan negara secara penuh kepada VOC sebagai pelindung Surakarta tanggal 11 Desember.

Sementara itu Mangkubumi telah mengangkat diri sebagai raja bergelar Pakubuwana III tanggal 12 Desember di markasnya, sedangkan VOC mengangkat putra Pakubuwana II sebagai Pakubuwana III tanggal 15.

Dengan demikian terdapat dua orang Pakubuwana III.

Yang satu disebut Susuhunan Surakarta, sedangkan Mangkubumi disebut Susuhunan Kebanaran, karena bermarkas di desa Kebanaran di daerah Mataram.

Perang kembali berlanjut.

Pertempuran besar terjadi di tepi Sungai Bogowonto tahun 1751 di mana Mangkubumi menghancurkan pasukan VOC yang dipimpin Kapten de Clerck.

Orang Jawa menyebutnya Kapten Klerek.

BERBAGI WILAYAH KEKUASAAN

Pada tahun 1752 Mangkubumi dengan Raden Mas Said terjadi perselisihan.

Perselisihan ini berfokus pada keunggulan supremasi Tunggal atas Mataram yang tidak terbagi.

Dalam jajak pendapat dan pemungutan suara dukungan kepada Raden Mas Said oleh kalangan elite Jawa dan tokoh tokoh Mataram mencapai suara yang bulat mengalahkan dukungan dan pilihan kepada Mangkubumi.

Dalam dukungan elite Jawa menemui fakta kalah dengan Raden Mas Said maka Mangkubumi menggunakan kekuatan bersenjata untuk mengalahkan Raden Mas Said tetapi Mangkubumi menemui kegagalan.

Raden Mas Said kuat dalam dukungan-pilihan oleh elite Jawa dan juga kuat dalam kekuatan bersenjata.

Mangkubumi bahkan menerima kekalahan yang sangat telak dari menantunya yaitu Raden Mas Said.

Akibat kekalahan yang telak Mangkubumi kemudian menemui VOC menawarkan untuk bergabung dan bertiga dengan Paku Buwono III sepakat menghadapi Raden Mas Said.

Tawaran Mangkubumi untuk bergabung mengalahkan Raden Mas Said akhirnya diterima VOC tahun 1754.

Pihak VOC diwakili Nicolaas Hartingh, yang menjabat gubernur wilayah pesisir utara Jawa. Sebagai perantara adalah Syaikh Ibrahim, seorang Turki.

Perudingan-perundingan dengan Mangkubumi mencapai kesepakatan, Mangkubumi bertemu Hartingh secara langsung pada bulan September 1754.

Perundingan dengan Hartingh mencapai kesepakatan.

Mangkubumi mendapatkan setengah wilayah kerajaan Pakubuwana III, sedangkan ia merelakan daerah pesisir disewa VOC seharga 20.000 real dengan kesepakatan 20.000 real dibagi dua;10.000 real untuk dirinya Mangkubumi dan 10.000 real untuk Pakubuwono III.

Akhirnya pada tanggal 13 Februari 1755 dilakukan penandatanganan naskah Perjanjian Giyanti yang mengakui Mangkubumi sebagai Sultan Hamengkubuwana I. 

Wilayah kerajaan yang dipimpin Pakubuwana III dibelah menjadi dua.

Hamengkubuwana I mendapat setengah bagian.

Perjanjian Giyanti ini juga merupakan perjanjian persekutuan baru antara pemberontak kelompok Mangkubumi bergabung dengan Pakubuwono III dan VOC menjadi persekutuan untuk melenyapkan pemberontak kelompok Raden Mas Said.

Bergabungnya Mangkubumi dengan VOC dan Paku Buwono III adalah permulaan menuju kesepakatan pembagian Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta.

Dari persekutuan ini dapat dipertanyakan; Mengapa Mangkubumi bersedia membagi Kerajaan Mataram sedangkan persellisihan dengan menantunya Raden Mas Said berpangkal pada supremasi kedaulatan Mataram yang tunggal dan tidak terbagi?

Dari pihak VOC langsung dapat dibaca bahwa dengan pembagian Mataram menjadikan VOC keberadaannya di wilayah Mataram tetap dapat dipertahankan.

VOC mendapat keuntungan dengan pembagian Mataram.

MENDIRIKAN YOGYAKARTA

Sejak Perjanjian Giyanti wilayah kerajaan Mataram dibagi menjadi dua.

Pakubuwana III tetap menjadi raja di Surakarta, Mangkubumi dengan gelar Sultan Hamengkubuwana I menjadi raja di Yogyakarta.

Mangkubumi sekarang sudah memiliki kekuasaan dan menjadi Raja maka tinggal kerajaan tempat untuk memerintah belum dimilikinya.

Untuk mendirikan Keraton/Istana Mangkubumi kepada VOC mengajukan uang persekot sewa pantai utara Jawa tetapi VOC saat itu belum memiliki yang diminta oleh Mangkubumi.

Pada bulan April 1755 Hamengkubuwana I memutuskan untuk membuka Hutan Pabringan sebagai ibu kota Kerajaan yang menjadi bagian kekuasaannya .

Sebelumnya, di hutan tersebut pernah terdapat pesanggrahan bernama Ngayogya sebagai tempat peristirahatan saat mengantar jenazah dari Surakarta menuju Imogiri.

Oleh karena itu, ibu kota baru dari Kerajaan yang menjadi bagiannya tersebut pun diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat, atau disingkat Yogyakarta.

Sejak tanggal 7 Oktober 1756 Hamengkubuwana I pindah dari Kebanaran menuju Yogyakarta.

Seiring berjalannya waktu nama Yogyakarta sebagai ibu kota kerajaannya menjadi lebih populer.

Kerajaan yang dipimpin oleh Hamengkubuwana I kemudian lebih terkenal dengan nama Kesultanan Yogyakarta.

USAHA MENAKLUKAN SURAKARTA

Hamengkubuwana I meskipun telah berjanji damai namun tetap saja berusaha ingin mengembalikan kerajaan warisan Sultan Agung menjadi utuh kembali.

Surakarta memang dipimpin Pakubuwana III yang lemah namun mendapat perlindungan Belanda sehingga niat Hamengkubuwana I sulit diwujudkan, apalagi masih ada kekuatan ketiga yaitu Mangkunegoro I yang juga tidak senang dengan Kerajaan yang terpecah, sehingga cita cita menyatukan kembali Mataram yang utuh bukan monopoli seorang saja.

Pada tahun 1788 Pakubuwana IV naik takhta.

Ia merupakan raja yang jauh lebih cakap daripada ayahnya.

Paku Buwono IV sebagai penguasa memiliki kesamaan dengan Hamengku Buwono I.

Paku Buwono IV juga ingin mengembalikan keutuhan Mataram.Dalam langkah politiknya Paku Buwono IV mengabaikan Yogyakarta dengan mengangkat saudaranya menjadi Pangeran Mangkubumi, hal yang menyebabkan ketegangan dengan Hamengku Buwono I.

Setelah pengangkatan saudaranya menjadi Pangeran, Paku Buwono IV juga tidak mengakui hak waris tahta putra Mahkota di Yogyakarta.

Pihak VOC resah menghadapi raja baru tersebut karena ancaman perang terbuka bisa menyebabkan keuangan VOC terkuras kembali.

Paku Buwono IV mengambil langkah konfrontatif dengan Yogyakarta dengan tidak mau mencabut nama "Mangkubumi" untuk saudaranya.

Memang dalam Perjanjian Giyanti tidak diatur secara permanen soal suksesi Kasultanan Yogyakarta, sehingga sikap konfrontatif Paku Buwono IV ini dapat dimengerti bahwa penguasa Surakarta memahami tanggung Jawab Kerajaan.

Sikap konfrontatif Paku Buwono IV ini beriring dengan munculnya penasihat penasihat spiritual yang beraliran keagamaan dan ini yang meresahkan VOC dan dua penguasa lainnya, karena ancaman perang yang meluluh lantahkan Jawa bisa terulang kembali.

Pada tahun 1790 Hamengkubuwana I dan Mangkunegara I (alias Mas Said) kembali bekerja sama untuk pertama kalinya sejak zaman pemberontakan dulu.

Mereka bersama VOC bergerak mengepung Pakubuwana IV di Surakarta karena Paku Buwono IV memiliki penasihat penasihat Spiritual yang membuat khawatir VOC.

Pakubuwana IV akhirnya menyerah untuk membiarkan penasihat penasihat spiritualnya dibubarkan oleh VOC.

Ini adalah kerja sama dalam kepentingan yang sama yaitu mencegah bersatunya penasihat spiritual dengan golongan Ningrat yang merupakan ancaman potensial pemberontakan kembali.

Hamengkubuwana I pernah berupaya agar putranya dikawinkan dengan putri Paku Buwono III raja Surakarta dengan tujuan untuk bersatunya kembali Mataram namun gagal. Pakubuwana IV yang merupakan waris dari Paku Buwono III lahir untuk menggantikan ayahnya.

Sultan Hamengkubuwono died in 1792 and was interred in the Royal cemetery of Astana Kasuwargan in Imogiri. He was succeeded by Hamengkubuwono II, his son.

PENOBATAN PAHLAWAN NASIONAL

Hamengkubuwana I meninggal dunia tanggal 24 Maret 1792. Kedudukannya sebagai raja Yogyakarta digantikan putranya yang bergelar Hamengkubuwana II.

Hamengkubuwana I adalah peletak dasar-dasar Kesultanan Yogyakarta. Ia dianggap sebagai raja terbesar dari keluarga Mataram sejak Sultan Agung.

Yogyakarta memang negeri baru namun kebesarannya waktu itu telah berhasil mengungguli Surakarta.

Angkatan perangnya bahkan lebih besar daripada jumlah tentara VOC di Jawa.

Hamengkubuwana I tidak hanya seorang raja bijaksana yang ahli dalam strategi berperang, namun juga seorang pecinta keindahan.

Karya arsitektur pada jamannya yang monumental adalah Taman Sari Keraton Yogyakarta.

Taman Sari di rancang oleh orang berkebangsaan Portugis yang terdampar di laut selatan dan menjadi ahli bangunan Kasultanan dengan nama Jawa Demang Tegis.

Meskipun permusuhannya dengan Belanda berakhir damai namun bukan berarti ia berhenti membenci bangsa asing tersebut.

Hamengkubuwana I pernah mencoba memperlambat keinginan Belanda untuk mendirikan sebuah benteng di lingkungan keraton Yogyakarta.

Ia juga berusaha keras menghalangi pihak VOC untuk ikut campur dalam urusan pemerintahannya.

Pihak Belanda sendiri mengakui bahwa perang melawan pemberontakan Pangeran Mangkubumi adalah perang terberat yang pernah dihadapi VOC di Jawa (sejak 1619 - 1799).

Rasa benci Hamengkubuwana I terhadap penjajah asing ini kemudian diwariskan kepada Hamengkubuwana II, raja selanjutnya.

Maka, tidaklah berlebihan jika pemerintah Republik Indonesia menetapkan Sultan Hamengkubuwana I sebagai pahlawan nasional pada tanggal 10 November 2006 beberapa bulan sesudah gempa melanda wilayah Yogyakarta.

Prajurit Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Pemerintahan yang kuat harus didukung dengan sistem pertahanan yang kuat juga. 

Kesultanan Yogyakarta sebagai istana pecahan dari Kesultanan Mataram juga memiliki sistem pertahanan yang kuat di masa jayanya. 

Meskipun sekarang Kesultanan Yogyakarta telah bergabung dan menjadi bagian dari Republik Indonesia, sisa-sisa kekuatan pertahanan masih terlihat dari "10 Resimen Prajurit Kraton" yang masih bertahan sampai sekarang. 

Resimen pelindung kraton, penjaga Istana Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

SEJARAH

Resimen Prajurit Kraton Yogyakarta (1920an)
Prajurit Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dibentuk pada masa pemerintahan Hamengkubuwono I sekitar abad ke-17. 

Tepatnya pada 1755 AD.

Para prajurit infanteri dan pasukan kavaleri telah menggunakan senjata api dalam bentuk senapan dan meriam

Selama sekitar setengah abad, Resimen Penjaga Kraton sangat terkenal, terbukti ketika Hamengkubuwono II melakukan perlawanan bersenjata terhadap invasi pasukan Inggris di bawah Jenderal Gillespie pada bulan Juni 1812. 

Namun sejak masa pemerintahan Hamengkubuwono III, perusahaan Inggris membubarkan tentara Kesultanan Yogyakarta.

Dalam perjanjian tanggal 2 Oktober 1813 yang ditandatangani oleh Sultan Hamengkubuwono III dan Stamford Raffles, tertulis bahwa Kesultanan Yogyakarta tidak dibenarkan untuk memiliki angkatan bersenjata yang kuat. 

Di bawah pengawasan Pemerintah Kerajaan Inggris, istana hanya dapat memiliki entitas bersenjata yang lemah dengan jumlah personil terbatas. 

Jadi tidak mungkin lagi melakukan gerakan militer.

Sejak saat itu fungsi unit-unit bersenjata terbatas sebagai penjaga sultan dan penjaga istana dan tradisi-tradisinya.


"Prajurit Prawirotomo adalah prajurit yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan prajurit lainnya ini, tidak lepas dari asal mula keberadaan prajurit 1000 anggota tentara Mataram yang membantu pangeran Mangkubumi untuk melawan Pemerintah Hindia Belanda."


Menurut catatan yang ada, pada masa pemerintahan Hamengkubuwono VII hingga masa pemerintahan Hamengkubuwono VIII antara tahun 1877 dan 1939 terdapat 13 jenis dari Resimen Prajurit Kraton:
  • Sumoatmojo 
  • Ketanggung 
  • Patangpuluh 
  • Wirobrojo
  • Jogokaryo
  • Nyutro 
  • Dhaeng 
  • Jager 
  • Prawirotomo
  • Mantrijero 
  • Langenastro 
  • Surokarso 
  • Bugis 

Kolonel pada saat itu dan pada masa sekarang, adalah Sultan Yogyakarta.

REGIMEN SAAT INI

Pada tahun 1942, Resimen Prajurit Kraton dibubarkan oleh pemerintah Jepang, namun mulai tahun 1970 aktivitas pasukan kerajaan dihidupkan kembali.

Dari 13 Resimen Penjaga Kraton yang telah ada di sana, hanya sepuluh prajurit yang direkonstruksi dengan beberapa perubahan, baik dalam seragam yang dipakai di masa lalu, seremonial senjata, jumlah personil dan perekrutan mereka.

Saat ini, dua batalion Resimen Prajurit Kraton masih dapat dilihat oleh publik setidaknya tiga kali setahun, di Garebeg Mulud, Garebeg Besar dan Upacara Garebeg Syawal , di alun-alun Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Regimen ini diperkuat oleh dua Batalyon Garda Kerajaan Pakualaman. 

Ketika digabungkan, BGK berfungsi sebagai Batalyon 3 (cadangan) resimen resmi di sekitar Kota Yogyakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Resimen ini masih dipimpin Kolonelnya yaitu Sultan Yogyakarta, yang secara bersamaan adalah Gubernur Daerah Istimewa. 



Saat ini 10 resimen prajurit dengan sekitar 80 personil aktif adalah:
  • Wirobrojo
  • Dhaeng
  • Patangpuluh 
  • Jogokaryo 
  • Mantrijero
  • Prawirotomo
  • Mantrijero
  • Ketanggung 
  • Surokarso
  • Bugis 
Ke 10 resimen ini masih aktif dan menjadi bagian dari hal yang tidak terpisahkan dari budaya Keraton Yogyakarta.

Sri Sultan Hamengkubuwono X

Sri Sultan Hamengkubuwono X (juga disebut Hamengkubuwana X, sering disingkat menjadi HB X)(Lahir dengan nama BRM Herjuno Darpito, 2 April 1946 di Yogyakarta) adalah sultan dari Kasultanan Yogyakarta yang bersejarah, dan saat ini juga menjabat sebagai Gubernur dari Daerah Istimewa Yogyakarta.
Hamengkubuwono X menggantikan sang ayah Hamengkubuwono IX sebagai Sultan Yogyakarta saat Raja Hamengkubuwono IX wafat pada tanggal 3 oktober 1988.
Hamengkubuwono X secara formal diangkat menjadi sultan tanggal 7 maret 1989.
Namun, posisi gubernur dari Daerah Istimewa Yogyakarta tidak jatuh kepada Hamengkubuwono X.
Wakil Gubernur Sri Pakualam VIII, pangeran dari bawahan Paku Alaman di Yogyakarta malah secara kontroversial diangkat ke posisi gubernur.
Ini bertentangan dengan perjanjian yang dibuat pada kemerdekaan Indonesia sebagai pengakuan atas dukungan dan peran Hamengkubuwono IX dalam Perang Kemerdekaan Indonesia
Berdasarkan perjanjian, Sultan Yogyakarta memegang posisi gubernur di Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Paku Alam memegang posisi wakil gubernur.
Setelah jatuhnya rezim Suharto pada Mei 1998, dan setelah kematian Sri Paku Alam VIII pada 11 September 1998, pemerintah pusat mengharuskan diadakannya pemilihan untuk jabatan Gubernur Yogyakarta. 
Hamengkubuwono X secara demokratis terpilih sebagai Gubernur pada 3 Oktober 1998. 
Pada 30 Agustus 2012, setelah satu dekade pembicaraan antara Yogyakarta dan pemerintah pusat, legislatif nasional Indonesia secara resmi diabadikan dalam hukum konvensi bahwa Sultan mewarisi posisi gubernur.

Background
Hamengkubuwono X adalah lulusan Administrasi Publik Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Hamengkubuwono X aktif sebagai Ketua DIY KADINDAII (Asosiasi Bisnis), Ketua DPD Golkar DIY (Partai Golongan Karya Yogyakarta), Ketua Ketua Komite Olahraga DIY dan Direktur Utama PT Punokawan Construction, Presiden Komisaris PG Madukismo, dan di Juli 1996 diangkat sebagai Ketua Penasehat Ahli DIY kepada Gubernur.
Hamengkubuwono X mengikuti tradisi almarhum ayahnya Sri Sultan Hamengkubuwono IX dalam semangat nasionalisme Indonesia atas kepentingan pribadi dengan berpartisipasi dalam protes jalanan untuk mendukung demonstrasi mahasiswa menentang pemerintahan Suharto pada 14 Mei 1998, dan seperti ayahnya yang termasyhur, ingin menjadi pelopor dalam Gerakan Reformasi Yogyakarta meskipun dengan cara tanpa kekerasan.
Hamengkubuwono X juga merupakan salah satu dari empat tokoh kunci dalam periode reformasi awal yang memicu Deklarasi Ciganjur yang mendesak pemerintah untuk mengadakan pemilihan sesegera mungkin, karena Presiden BJ Habibie tidak memiliki hak Konstitusional maupun hukum untuk melanjutkan kembali kepresidenan Suharto yang baru saja mengundurkan diri.
Hamengkubuwono X telah menyatakan visinya untuk wilayahnya dan Kesultanan adalah pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengembangan pertanian, pariwisata dan industri budaya yang terkenal di dunia dan dengan demikian memberikan kehidupan yang adil dan makmur untuk semua warganya.
Hamengkubuwono X dinominasikan oleh pilihan populer, Majelis Golkar Yogyakarta sebagai Calon Presiden untuk Kampanye Pemilu Presiden Indonesia 2009. 
Hamengkubuwono X, meskipun dihormati secara luas di semua pihak dan secara nasional sebagai netral, jujur ​​dan tidak korup, pada akhirnya tidak berhasil dalam menggalang dukungan di luar Jawa Tengah dan tidak berhasil mencapai posisi suara putaran pertama.

Kehidupan Pribadi
Hamengkubuwono X telah menghentikan tradisi poligamis kerajaan Jawa dengan raja-raja yang memiliki beberapa istri dan beberapa gundik, sesuai keinginan almarhum ayahnya untuk memodernisasi sistem kerajaan dan dengan demikian hak-hak perempuan, dan untuk memimpin dengan memberi contoh dan menikah dengan Ratu Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas.
Lima anak perempuan mereka (dalam urutan kelahiran) adalah:
  1. Putri Mahkota Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi (calon pewaris) menikah dengan Pangeran Haryo Wironegoro  
  2. Gusti Kanjeng Ratu Condrokirono (bercerai)
  3. Gusti Kanjeng Ratu Maduretno menikah dengan Pangeran Haryo Purbodiningrat  
  4. Gusti Kanjeng Ratu Hayu menikah dengan Pangeran Haryo Notonegoro  
  5. Gusti Kanjeng Ratu Bendara menikah dengan Pangeran Kanjeng Haryo Yudonegoro  
Hamengkubuwono X tinggal di kompleks Keraton Yogyakarta dan menggunakan rumah Gubernur semata-mata untuk urusan politik


Gelar
Di Kraton Jawa (istana) - nama-nama individu berubah sehubungan dengan perubahan status: 
  1. Dari lahir hingga menikah: Bendoro Raden Mas (Bendera Tuan) Herjuno Darpito  
  2. Pasca-pernikahan sampai pengangkatan sebagai Putra Mahkota: Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Mangkubumi  
  3. Sebagai Pewaris Tampak Mahkota: Pangeran Kanjeng Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Negara Bagian Sudibyo Raja Putra Nalendra Mataram.
  4. Sebagai Sultan: Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sri Sultan Hamengku Buwono Senapati ing Ngalogo Ngabdurrokhman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang jumeneng kaping X

Sejarah Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Kraton Yogyakarta ( secara formal dikenal dengan nama: Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, adalah Bangunan Komplek Istana yang terletak di kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia.

Istana ini merupakan kediaman utama Sri Sultan HB X dan keluarga.

Saat ini istana berfungsi sebagai pusat kultur dan budaya dari masyarakat jawa dan menjadi museum yang mendisplay artifak serta  barang-barang sejarah kasultanan dari jaman dahulu.

Istana ini dijaga oleh Prajurit Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

SEJARAH

Kraton Yogyakarta dibangun oleh Pangeran Mangkubumi pada tahun 1755-1756 ( Tahun jawa: 1628 ), beberapa bulan setelah menandatangani "Perjanjian Giyanti" antara Pangeran Mangkubumi dari Yogyakarta, Pakubuwono III dari Surakarta, dan Pemerintah Hindia Belanda.

Hutan Banyan dipilih menjadi tempat di wilayah istana yang mana terletak diantara 2 sungai.

Pada 20 Juni 1820, Stamford Raffles memimpin 1.200 pasukan inggris menyerang tembok pertahanan istana Yogyakarta.

Pasukan jawa kala itu meski memiliki jumlah yang lebih banyak dari pasukan Inggris, tidak siap dengan serangen tersebut, dan berhasil diduduki setelah penyerangan.

Peristiwa ini disebut dengan "Geger Sepoy" atau "Geger Spei".

Ilustrasi Geger Sepoy / Sepehi (sumber)
Hanya dalam satu hari, kota Yogyakarta jatuh dan istana diransak dan dibakar.

Total jarahan yang didapat pasukan Inggris dari Istana Yogyakarta mencapai nilai £15,000 dalam bentuk emas, permata dan uang (yang saat ini bernilai sampai £500,000 ).

Kejadian ini adalah kali pertama pernyerangan yang dilakukan ke pemerintahan di jawa, sehingga kasultanan kemudian diwajibkan tunduk pada kekuasaan kolonial Belanda.

Sebagian besar bangunan istana yang ada saat ini, dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono VIII yang berkuasa antara tahun 1921 - 1939, pernah mengalami kerusakan karena gempa pada tahun 1876 dan 2006, dan secara bertahap dipugar dan diperbaiki dari kerusakan.

ARSITEKTUR

Layout Wilayan Kraton Yogyakarta
Arsitek dari istana Yogyakarta adalah Sultan Hamengkubuwono I, pendiri dari kasultanan Yogyakarta.

Kemampuan arsitekturnya diakui dan diapresiasi oleh Ilmuwan Belanda Theodoor Gautier Thomas Pigeaud dan Lucien Adam yang menganggapnya sebagai arsitek dari saudara dari Pakubuwono II  dari Kasunanan Surakarta.

Dasar pembangunan dan dasar desain dari istana mengikuti desain dasar dari landscape tua kota Yogyakarta, selesai dibangun antara tahun 1755-1756.

Bangunan lain dibangun dikemudian hari oleh Sultan Yogyakarta saat ini.

Bentuk istana saat ini adalah hasil restorasi dan perbaikan oleh Sultan Hamengkubuwono VIII yang berkuasa antara tahun 1921-1939.

Bangunan Kraton Yogyakarta lebih terlihat menggunakan gaya artsitektur jawa, yang biasanya memiliki konstruksi bangunan kayu yang ada di relief candi, yang tentu saja bangunan yang digunakan oleh masyarakat pada periode klasik

Ornamen Pilar Kraton (sumber)
Beberapa ornamen flora dan fauna dan motif alami kadang ditemukan pada arsitektur ini.

Pada beberapa bagian terlihat paduan budaya asing seperti Portugis, Belanda bahkan China.

Bangunan pada setiap komplek biasanya berbentuk Joglo atau turunan konstruksinya.

Joglo yang dibangun tanpa dinding yang disebut Bangsal, sementara joglo yang dibangun dengan dinding, disebut Gedhong (Gedung).

Disamping itu juga terdapat bangunan yang berbentuk kanopi yang terbuat dari bambu dan memiliki pilar yang disebut Tratag.

Pada perkembangannya, bangunan ini diberi atap seng dan besi.

Permukaan dari atap joglo berbentuk trapesium.

Materialnya terbuat dari sirap, ubin dan seng dan biasanya berwarna merah atau abu-abu.

Atapnya disokong oleh pilar utama yang disebut dengan Soko Guru, terletak di bagian tengah bangunan.

Pilar bangunan umumnya berwarna hijau tua atau hitam dengan ornamen berwarna kuning, hijau muda, merah dan emas.

Bangsal Kencana Kraton
Untuk bagian bangunan lain yang terbuat dari kayu memiliki warna sama dengan Kaligrafi Muhammad, dan Alif Lam Mim Ra pada bagian tengah pilar.

Pada alas batunya, disebut ompak berwarna hitam dipadu dengan ornamen warna emas.

Warna putih mendominasi pada dinding dan dinding pembatasnya.

Lantai biasanya terbuat dari marmer putih atau ubin yang berpola.

Lantai ini dibuat lebih tinggi dari halaman.

Pada bangunan tertentu memiliki lantai yang lebih tinggi lagi, dan dilengkapi dengan batu persegi yang disebut Selo Gilang tempat tahta Sultan.

Tiap bangunan memiliki kelas dan fungsinya termasuk jarak sesuai dengan posisi masing-masing.

Kelas utama misalnya, bangunan yang digunakan oleh sultan berdasarkan posisinya, memiliki ornamen lebih detil dan lebih rumit serta indah daripada kelas dibawahnya.

Bangunan kelas yang lebih rendah memiliki ornamen yang lebih simple atau bahkan tidak memiliki ornamen sama sekali.

Disamping dari ornamen, kelas bangunan dapat juga dilihat dari material yang digunakan atau bentuk dari bangunan itu sendiri.

FILOSOFI

Kraton berarti tempat dimana ratu ( dalam bahasa inggris : Queen, di jawa juga bisa berarti : Raja) tinggal.

Kata "Keraton" ( Keraton adalah tempat tinggal keluarga raja didalam istana)( disingkat dari kata ratu/Ka-ratuan) berasal dari kata "Ratu" dalam bahasa melayu berarti "Raja".

Istana dibangun berdasarkan filosofi jawa dan terselubung dalam kemistisan.

Pengaturan tata ruang istana, termasuk pemandangan kota kota tua Yogyakarta, termasuk arsitekturnya, arah bangunan, dan benda-benda, semuanya memiliki  nilai mitologi dan sistem kepercayaan orang Jawa.

Jalan utama kota tua yogyakarta  membentuk garis lurus dari Tugu Yogyakarta, Kraton, Gunung Merapi ke Panggung Krapyak (kandang menjangan).

Sumbu Imajiner Yogyakarta (sumber)
Tata letak ini memiliki arti "asal-usul manusia dan tujuan terakhir mereka" ( dalam bahasa Jawa: sangkan paraning dumadi)

Jalan dari panggung krapyak menuju istana menyimbolkan penciptaan manusia pertama menuju kedewasaan.

Desa disekeliling panggung krapyak disebut dengan "Mijen" yang berasal dari kata "Wiji" (benih). Disepanjang jalan ditanami pohon Asam Jawa dan Sawo Kecik yang melambangkan perjalanan dari masa anak-anak menuju kedewasaan.

Panggung Krapyak (Kandang Menjangan)
Lalu mengarah ke Tugu Yogyakarta dan akhirnya berakhir di istana yang melambangkan berakhirnya perjalanan hidup dan menemui sang pencipta.

Terakhir, 7 gerbang dari Gladhag ke Donopratopo melambangkan 7 tangga menuju surga.

Tugu Yogyakarta (Gilig golong Monument) terletak di bagian utara dari kota dan merupakan simbol bersatunya antara Raja (golong) dan rakyatnya (gilig)(bahasa jawa: Manunggaling Kawulo Gusti).

Hal ini juga menyimbolkan bersatunya manusia dengan sang pencipta.

Gerbang Donopratoro (gerbang menuju bagian kedaton berarti "orang yang baik adalah orang yang murah hati dan tahu bagaimana mengendalikan hawa nafsunya") dan dua patung "Dwarapala" dan "Cinkarabala", masing masing melambangkan kebaikan dan kejahatan.

Gerbang Donopratoro dengan patung Dwarapala & Cinkarabala
Pusaka keraton juga dipercaya memiliki kekuatan untuk menolak dan menghalau niat jahat.

PERTUNJUKAN BUDAYA

Keraton Yogyakarta menyelenggarakan pertunjukan budaya setiap hari diantaranya:
  • Gamelan - setiap hari senin - selasa jam 10 pagi
  • Wayang golek - setiap hari rabu jam 10 pagi
  • Pertunjukan sendratari - Kamis jam 10 pagi
  • Macapat - Jumat jam 9 pagi
  • Pertunjukan Wayang Kulit - Sabtu jam 9:30 pagi
  • Pertunjukan Wayang Orang dan Sendratari - Minggu jam 9:30 pagi
Lihat Juga
  • Daftar Raja Raja Yogyakarta
  • Benteng Vredeburg
  • Gedung Agung
  • Taman sari